Jumat, 20 Januari 2012

Jengkal Hati ku

 
tapi selayak nya manusia
aku tetap menanti....
merindukan seseorang yg mengerti
isi dari tiap jengkal hati ku ini

kala dia hadir nanti

kuharap bs menghibur hidup ku ini

jujur,aku butuh tuk di mengerti

aku butuh kasih sejati
temani aku hingga waktu ku
bs bersandar dan menghiburku

aku memang mandiri

tp aku tak bs semuanya sendiri
butuh seseorang tuk hapuskan sepi
memberi warna indah bagai pelangi.

Menuntut Tuhan!!!


Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi, bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu....

selama ini kita sering lupa bahwa Tuhan Maha Baik dan Benar "TUHAN BUKANLAH MANUSIA, DIA TIDAK AKAN PERNAH BERDUSTA PADA JANJINYA" Selama kita benar dihadapannya, Dia akan memenuhi dan memberikan apa yang kita butuhkan dan kita dapat menuntutNYA karena dia tidak pernah berdusta. Dengan catatan kita telah berlaku benar di hadapannya.

Tuhan mengirim dua hati


Lagi jangan kau kira ini tentang diam
Diam diam dan pikir aku yang tenggelam
Berjelaga dengan siul malam
Akupun berlari perlahan
Bukan timur terarah ataupun hutan resapan
Hanya selembar selimut tebal dari bulu harapan
Berusaha mencari dentuman ketenangan
Dan Tuhan mengirim dua hati untuk saling terjaga
Akhir datang lelah tak terenggut tujuan
Atau mungkin bukan sekarang, lalu kapan?
Hingga tiba datang terwujud,
kujaga senyum itu dengan keyakinan

Ini hanya satu harap


Tak pernah berhenti jari mengukir sabda
Menyiratkan arti dalam indah tatap mata
Masihkan Tuhan menyisakan ribuan kata
Untuk menggambarkan indahmu wahai hawa

Tak sedikitpun sesal hadir melampaui lelah
Seolah akhir terangkai dalam liang tabah
Bukankah mega itu hadir untuk kita?
Menikmati seksama rona kemerahan aksa

Semua berjalan dalam irama yang tak mudah
Bersimfoni dalam dawai-dawai pencipta resah
Lalu kapan kabut tebal itu singgah?
Memisahkan pandang di setiap alur senja

Ini bukan sinar kunang yang di bilang sempurna
Ini hanya satu harap dalam fatamorgana

Aku mohon . . .


Masih ingatkah kamu cinta tentang kata yg terucap dari  hati yg mencoba mengungkap..
Ya. . . Kamu terima itu dengan sederhana, sesederhana kalam mu mengakhiri semua..
Bukankah aku selalu mengamatimu dari celah kaca yang berdebu?
Membalas tiap senyum dari balik angkuhnya akhir sifatmu..
Lalu kenapa mesti berakhir?
Aku mohon berbaliklah cinta dan tatap aku kembali..
Bukankah aku selalu menemani untuk berjalan atas segala arah yg kau tuju?
Membiarkan jari jemari menyatu seolah menuntun menyapa dalam bicara..
Aku mohon kembalilah cinta dan tatap aku kembali..
Bukankah Ini terlalu singkat jika harus berujung dalam kata yang kamu sebut “akhir”
Aku mohon . . .
Aku mohon tatap aku kembali..

Kertas kertas impian

Haruskan aku memungut penaku yang telah usang, mengisinya kembali dengan tinta sebuah harapan dan melukisnya diantara kertas kertas impian yang tak tersentuh…

Haruskan aku berbalik dari pendirian yang selalu aku banggakan, memohon kembali padamu untuk sedikit percaya bahwa memang aku yang pantas menemanimu di balkon sederhana milikmu…

Percayalah cinta,. . . .
Yakinlah sayang. . . .
Kita kan melihat berkas pelangi yang selalu kamu nanti, melihatnya bersama dalam dentungan ikat tali yang terjalin…

Dan jika saatnya tiba, maka berbaliklah dari bayang hitammu, keluarlah dari ruang kelammu…
Niscaya aku menghampirimu membawamu memelukmu erat keluar dari jurang kesepian yang kamu takutkan….

Kamis, 19 Januari 2012

Penantian tak berujung


Terlalu berat langkah untuk bertahan dari angan tentang indah sebilah senyuman, menggerogoti perlahan atas belahan ingatan perasa di setiap senja..

Haruskah malam datang dan aku bertanya dengan bulan, kemudian menyapanya, memberinya sebuah pena untuk melukis sedikit hiasan dibalik redup kelam dari tirai yg mulai terkais..

Aku merasa tak mampu sayang, tahukah kamu bahkan kaki ini mulai membusuk, membuatku kian terpuruk dalam sudut
Bayang diripun seakan menjauh dari diri, menghindar atas dasar tak beriang dalam karma yang ia bilang sendiri..

Mengenaskan, mengharukan bahkan kasihan tak lagi terhiraukan..
Yang ada hanya sebuah keyakinan dalam tekanan bahwa satu hal yang teramat hina memuji seorang wanita dengan setitik senyum sempurna surgawi..

Yaaa . . . ini tentang hatiku..
Hati yang teruntuk satu, dan itu..
Kamu…….